Kanker otak bisa tumbuh dalam banyak jenis, setiap jenisnya memiliki kekhasan tersendiri yang menghasilkan perbedaan dalam merencanakan terapi pengobatan yang dibutuhkan. Ketepatan gambaran histopatologi (yang merupakan gold standard atau baku emas) dalam seluruh kasus tumor sehingga dapat menentukan keberhasilan pengobatan yang dijalani pasien.

Mendiagnosis Jenis Kanker Otak Dengan Tepat

Harmini sudah menjalani operasi pengangkatan tumor otak di salah satu rumah sakit di Surabaya. Dari hasil pemeriksaan sampel jaringan otak, Harmini diberi tahu bahwa ia menderita  tumor otak jenis Ependimoma anaplastik, yakni salah satu jenis tumor otak yang berasal dari sel glial.

Anaplastik merupakan istilah yang menggambarkan adanya pembelahan sel-sel kanker yang cepat dengan sedikit atau bahkan tidak ada kemiripan sama sekali dengan sel normal. Hal ini menunjukkan bahwa tumor ependimoma berada pada derajat 3 (ganas) dengan sel abnormal yang tumbuh lebih aktif atau lebih cepat.

Setelah operasi dan didiagnosis tipe tumornya, Harmini berniat meneruskan pengobatan di rumah sakit di Bandung, kota tempatnya bekerja. Berbekal berkas hasil diagnosis, Harmini mendatangi salah satu rumah sakit di Bandung agar dapat segera menjalani tindakan terapi lanjutan seperti yang disarankan.

Namun pihak rumah sakit menganjurkan agar Harmini menjalani evaluasi ulang atas kondisi tumor yang diidapnya. Ia heran dan merasa tak mendapat kejelasan atas tindak lanjut pengobatannya.

Ia kemudian diberi saran oleh seorang temannya untuk melanjutkan pengobatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo atau Rumah Sakit Kanker Dharmais. Harmini akhirnya mencoba mendatangi RS Kanker Dharmais untuk melanjutkan pengobatan setelah operasi pengangkatan tumor.

Di RS Kanker Dharmais, Harmini menjalani MRI (Magnetic resonance imaging)  kepala setelah melakukan konsultasi dengan dokter spesialis saraf, Dr. dr. Rini Andriani, Sp.S(K).

Rini melihat hasil MRI dan rekam medisnya, termasuk hasil diagnosis yang menyatakan kanker otak yang saya alami merupakan jenis ependimoma. Ia kemudian meminta Harmini mengecek ulang jenis kankernya demi ketepatan rencana terapi dan pengobatan.

Setelah mendengar penjelasan dokter, Harmini kemudian mengambil sampel jaringan otaknya di rumah sakit tempatnya operasi, di Surabaya. Ia membawanya ke Jakarta untuk dilakukan evaluasi ulang terhadap sampel jaringan tumor otaknya di RS Kanker Dharmais

Setelah hasilnya keluar, lagi-lagi dr. Rini mengatakan ingin melakukan pengecekan dengan menggunakan metode pemeriksaan tertentu sehingga didapatkan hasil yang lebih akurat. Sebab masih ada keraguan di dr. Rini untuk memastikan jenis tumor yang diidap Harmini.

Pemeriksaan ulang sampel pun dilakukan. Hasilnya, diketahui bahwa Harmini mengidap Astrositoma Anaplastik bukan Ependimoma seperti diagnosis awal. Astrositoma adalah tumor otak glial yang berawal di sel yang disebut astrosit. Derajat paling tinggi (derajat 4) dari tumor otak Astrositoma disebut Glioblastoma, jenis paling ganas dari semua kanker otak.

Astrositoma yang dialami Harmini adalah Astrositoma Anaplastik, berada pada derajat 3 dengan sel abnormal yang tumbuh lebih aktif atau lebih cepat. Walaupun sama-sama kanker otak, ketidaktepatan diagnosis sangat berpengaruh pada terapi yang diberikan.

Pentingnya Ketepatan Diagnosis Tipe dan Derajat Keganasan Pada Kanker Otak Glioma

Tumor otak glioma adalah jenis tumor otak ganas yang berasal dari sel-sel glia yang berada di otak yakni sel astrosit, oligodendrosit, dan sel ependimal. Tumor otak glioma terbagi ke dalam beberapa subjenis berdasarkan jenis sel glial yang terkena.

Klasifikasi jenis kanker dan derajatnya ini ditentukan dengan menganalisis sel-sel tumor di laboratorium dengan biopsi dan kemudian dilakukan pemeriksaan jaringan di bawah mikroskop.

Dr. dr. Rini Andriani, Sp.S(K), dokter konsultan neuroonkologi Rumah Sakit Kanker Dharmais mengatakan bahwa ketepatan dalam diagnosis dan klasifikasi jenis tumor otak sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pengobatan.

Rencana pengobatan tumor otak bagi setiap pasien dibuat berdasarkan jenis, derajat, lokasi, risiko, prognosis dan potensi pertumbuhan tumornya. Kurang tepat dalam menentukan jenis kanker bisa membuat pilihan terapi yang diberikan tidak tepat sasaran.

Tapi sayangnya untuk mengetahui lebih detail mengenai subjenis dan sifat tumor otak pada setiap pasien masih terkendala biaya dan teknologi.

“Indonesia masih tertinggal dari negara-negara di benua Amerika, Eropa, dan beberapa negara di Asia terkait dengan penegakan diagnosis dengan klasifikasi jenis tumor sampai ke subtipenya. Sedangkan untuk pemeriksaan yang lebih detail sampai ke subtipenya masih terkendala ketersediaan alat dan biaya,” jelas dr. Rini.

Pemeriksaan yang dimaksud dr. Rini salah satunya adalah pemeriksaan Imunohistokimia (IHK). IHK adalah pemeriksaan diagnostik molekuler terhadap jaringan tumor hasil biopdsi atau operasi.

“RSK Dharmais, sebagai rumah sakit pusat kanker nasional, maka dalam penatalaksanaan pasien dengan keganasan otak akan diputuskan dalam tim multidisiplin yang terdiri dari berbagai dokter spesialis,” jelas Dr. dr. Rini Andriani, Sp.S(K).