Summary: Kanker pada anak memang sulit dicegah, namun di negara maju tingkat kesembuhannya dapat mencapai 80%. Apa yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan tata laksana di Indonesia?


Urgensi Perhatian Terhadap Penanganan Kanker Anak di Indonesia

Data organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan tingkat kesembuhan kanker anak mencapai 80% di negara-negara berpenghasilan tinggi (High income Country), di mana layanan komprehensif penanganan kanker anak dapat diakses. Sedangkan di negara-negara berpenghasilan menengah dan rendah (Low Middle Income Country) hanya mencapai 20%. Perhatian berbagai pihak, pemetaan masalah dan penerapan strategi yang tepat sangat dibutuhkan untuk meningkatkan angka harapan hidup anak-anak dengan kanker.

Tingginya tingkat kesembuhan di negara-negara maju tersebut didukung oleh perhatian dan kepedulian yang besar baik dari negara maupun warganya terhadap penyakit kanker. Hal tersebut terwujud dalam bentuk pendanaan, kesadaran penemuan kasus dini, dan akses pengobatan yang baik untuk seluruh warga. 

Kepedulian terhadap kasus kanker anak di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat tampak pada perhatian pemerintahnya sendiri. Salah satu bentuknya adalah mereka memiliki anggaran khusus yang diprioritaskan untuk penanganan kanker pada anak.

Bahkan di Amerika Serikat, sebelum pandemi COVID-19, Donald Trump menyatakan bahwa mereka akan mengatasi AIDS dan kanker anak dalam waktu yang sangat dekat. Hal tersebut merupakan bentuk kesadaran bahwa kanker anak perlu mendapat perhatian yang khusus dan potensial dapat disembuhkan.

Selama ini beberapa pihak terkesan mengabaikan kanker anak karena jumlah kasusnya hanya 5% dari keseluruhan penyakit kanker. Angka yang terlihat kecil itu, sebenarnya tidak sepenuhnya benar.  Catherine G. Lam, epidemiolog yang juga spesialis pediatrik onkologi di Rumah sakit St. Jude—rumah sakit kanker pertama di dunia—mengatakan terdapat banyak kasus under diagnosis dan proyeksi peningkatan kasus kanker anak akan cukup signifikan pada 2030.

Di Rumah Sakit Kanker Dharmais juga menunjukan hal yang sama yaitu terdapat peningkatan kasus kanker anak dari tahun 1995 sampai 2015 menunjukkan grafik peningkatan kasus kanker anak di Indonesia.

Hambatan Pengobatan Kanker Anak di Indonesia

Sebuah penelitian dari Scott Howard menjelaskan mengapa terjadi perbedaan angka harapan hidup kanker anak di negara berpenghasilan tinggi dan negara berpenghasilan menengah dan rendah. Setidaknya ada empat faktor yang memengaruhi tingkat kesuksesan penanganan kanker anak.

Pertama, tidak terdiagnosis. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat yang masih rendah dan sulitnya akses ke fasilitas kesehatan, terutama faskes yang memiliki layanan kanker anak.

Kedua, kasus terdiagnosis namun tidak menjalani terapi atau pengobatan. Kondisi ini terjadi ketika pasien telah datang ke rumah sakit dan dijadwalkan untuk menjalani serangkaian terapi namun tak dilaksanakan. Penyebabnya bisa dikarenakan pasien belum/tidak siap menerima tindakan karena banyaknya informasi shadow science yang menyebabkan misleading  terhadap pemahaman masyarakat

Ketiga, sudah didiagnosis dan menjalani terapi tapi tidak dilanjutkan hingga tuntas.

Keempat supportive care yang baik sehingga dapat mengurangi timbulnya kematian akbiat pendarahan dan infeksi.

Dampak lain adalah dampak pengobatan biaya kanker terhadap kondisi ekonomi dan keuangan pasien. Oleh karena tingginya biaya pengobatan kanker maka diperlukan dukungan finansial bagi pasien untuk mendapat akses ke fasilitas kesehatan, pengobatan, dan penegakan stadium yang baik dan presisi.

Penegakan diagnosis stadium kanker untuk tumor padat atau statifikasi resiko untuk leukemia yang tepat diperlukan demi efektivitas pengobatan kanker. Di RS Kanker Dharmais sendiri, sebagai contoh, saat ini tak hanya pemeriksaan morfologi sumsum tulang (BMP) dan pemeriksaan imunofenotyping tapi juga melakukan pemeriksaan biomolekuler untuk mendapatkan stratifikasi risiko leukemia pada anak dengan lebih presisi.

Umumnya fasilitas kesehatan melakukan stratifikasi dengan menggunakan informasi klinis dan morfologi sumsum tulang dan dibeberapa tempat menggunakan imunofenotyping namun tidak secara rutin. Saat ini pemeriksaan biomolekuler untuk menambah informasi stratifikasi LLA anak secara lebih presisi baru dapat dilakukan di RS Kanker Dharmais. Kolaborasi dalam penelitian dan pelayanan akan dapat meningkatkan kualitas tatalaksana kanker anak di Indonesia.

Langkanya fasilitas tingkat tinggi semacam ini berkontribusi pada diagnosis secara presisi hingga penentuan terapi dan pengobatan yang tepat. Maka, tak hanya cukup melangkah, Indonesia harus segera melompatan untuk mengejar ketertinggalan dan memperbaiki kualitas pengobatan kanker anak.

Kurangnya Tenaga Spesialis dan Pentingnya Kolaborasi Penelitian

Di Indonesia hanya ada sekitar 80 orang dokter spesialis hematologi onkologi anak dan konsultan kanker anak. Sementara itu kasus baru kanker anak per tahun diperkirakan mencapai 5.000-6.000 anak pertahun. Jumlah dokter dan konsultan tersebut tentu tak cukup untuk menangani seluruh kasus yang ada.

Sebab itu, penanganan kanker anak idealnya ditangani oleh dokter spesialis dari multidisiplin. Sebab, rujukan berjenjang akan terlalu lama sementara kondisi kanker dapat terus memburuk seiring berjalannya waktu. Kanker harus ditangani secara cepat dengan terapi yang tepat sesegera mungkin.

Oleh karena itu, menurut hemat kami seluruh kasus baru kanker anak seharusnya langsung didiagnosis secara lengkap dan segera mendapat terapi awal di rumah sakit yang mempunyai fasilitas terlengkap di kota tersebut. Setelah mendapat terapi awal, pasien kemudian dapat dikembalikan ke rumah sakit satelit untuk mendapat penanganan selanjutnya dan pada saat evaluasi dapat dirujuk kembali ke rumah sakit yang mempunyai fasilitas lebih lengkap

Kondisi ini membuat pasien membutuhkan waktu lama untuk tiba di rumah sakit tipe A seperti RS Kanker Dharmais. Sebagai catatan dari kasus tumor padat di RS Kanker Dharmais hanya 10% yang datang dengan stadium dini.

Oleh karena itu kita harus mendorong para regulator untuk memberikan perhatian lebih pada sistem penanganan kanker anak di Indonesia, mengingat potensi kanker anak untuk dapat disembuhkan sangat besar.

Kolaborasi Penelitian

Pengembangan penelitian mengenai kanker pada anak di Indonesia merupakan tantangan tersendiri. Luasnya wilayah, sedikitnya jumlah ahli, hingga ketersediaan fasilitas penelitian yang berbeda menjadi salah satu hambatan.

Di sisi lain, selama setiap lembaga, fasilitas kesehatan, dan para ahli bekerja sendiri-sendiri maka keberhasilan untuk meningkatkan survival rate kanker anak sulit tercapai. Demi meningkatkan angka harapan hidup pengobatan kanker anak di Indonesia, diperlukan kolaborasi berbagai pihak dalam melakukan riset baik skala nasional maupun internasional. Tentunya hal ini membutuhkan dukungan sumber daya, fasilitas, alat, dan dana dari regulator dan partisipasi masyarakat.

 

-Humas RS Kanker Dharmais-