"Lebih Presisi, Lebih Mengerti : Advanced Diagnostic For Childhood Leukemia"

Pentingnya penentuan risiko untuk leukemia pada anak, mengapa terjadi relapse pada leukemia anak, bagaimana pemeriksaan terkini yang dapat dilakukan untuk menentukan stratifikasi leukemia dan informasi lain seputar leukemia pada anak.


Pada kesempatan ini narasumber yang diwawancara yaitu dr. Mururul Aisyi, Sp.A(K) sebagai Padiatric Hematology Oncology Consultan di Rumah Sakit Kanker Dharmais dan Kepala Sub Bagian Penelitian dan Pengembangan Rumah Sakit Kanker Dharmais, narasumber lain Fahreza Putra, S.Sci (staf Penelitian dan Pengembangan biologi mokekuler, scientist di Rumah Sakit Kanker Dhamais), membahas tentang pentingnya penentuan risiko untuk leukemia pada anak, mengapa terjadi relapse pada leukemia anak, bagaimana pemeriksaan terkini yang dapat dilakukan untuk menentukan stratifikasi leukimia dan informasi lain seputar leukemia pada anak.

Mengawali wawancaranya, dr. Aisyi mengutip penelitian dari Scott Howard tentang leukimia akut pada anak yang membandingkan angka kesembuhan di negara-negara maju dan negara negara berkembang di seluruh dunia, dimana secara umum kemungkinan sembuh anak dengan leukemia lomfoblasit akut negara maju dapat mencapai rata-rata 80%, sedangkan di negara-negara berkembang rata-rata baru mencapai 20%. Scott Howard menyebutkan ada beberapa faktor mengapa hal ini dapat terjadi. Beberapa faktor tersebut antara lain:
• Banyaknya anak yang tidak terdiagnosis
• Kanker sudah terdiagnosis tetapi tidak mendapat terapi
• Kanker sudah diterapi tetapi lost follow-up (terapi tidak lengkap)
• Toxic Death
• Terjadinya relapse (kembalinya kondisi seperti semula, kambuh)


Tingkat kesembuhan leukemia pada anak bahkan meningkat sampai 90% apabila dilakukan tata laksana yang lebih tepat dengan cara :
• Memperbaiki supportive care
• Stratifikasi risiko yang lebih presisi
• Kemoterapi yang lebih personal dikarenakan respon masing-masing individu akan berbeda tergantung dari karakteristik sel leukimia dan hostnya.


Berbeda dengan kanker padat (solid tumor) yang menggunakan stadium untuk menentukan besarnya masalah, pada kanker cair digunakan istilah stratifikasi. Penentuan risiko (statifikasi risiko) pada kanker cair seperti leukemia menentukan jenis pengobatan, intensitas pengobatan, dan duration of treatment (lama pengobatan) yang akan didapat pasien. Leukemia yang sering terjadi pada anak adalah Leukemia Limfoblastik Akut (LLA). Untuk mendeteksi LLA pada anak, pemeriksaan standar yang umum dilakukan adalah dengan aspirasi sumsum tulang atau bone marrow puncture (BMP). Dijelaskan oleh dr. Aisyi, bahwa apabila ditemukan peningkatan sel blast pada aspirasi sumsum tulang, maka hal tersebut menunjukan adanya leukemia yang ditandai dengan gejala-gejala seperti panas, pucat dan pendarahan yang dapat pula disertai dengan pembesaran hati, limfa, gusi, pembesaran getah bening dan nyeri tulang.

Lebih lanjut dr. Aisyi menjelaskan bahwa dalam melakukan penentuan risiko (statifikasi) leukemia, selain BMP juga perlu dilanjutkan dengan metode immunopheno typing. Sebagai Pusat Kanker Nasional, RS Kanker Dharmais telah rutin melakukan hal tersebut. Namun demikian, dr. Aisyi sangat menyarankan agar juga dilakukan pemeriksaan molekul lain untuk melihat sub tipe LLA anak lebih jauh.
Sebagai contoh, pemeriksaan BCR-Abl kualitatif yang dilakukan di Sub Bagian Penelitian dan Pengembangan Rumah Sakit Kanker Dharmais dan sudah masuk dalam BPJS dapat dilakukan. Penelitian yang dilakukan dr. Aisyi dan kawan-kawan menunjukkan sekitar 12% LLA anak ternyata mempunyai BCR-Abl positif. BCR-Abl positif pada LLA anak mempunyai prognosis yang buruk sehingga regimen terapi yang digunakan seyogyanya lebih intensif.

Tidak cukup dengan hal tersebut, pemeriksaan lain untuk mendapatkan informasi tentang sub tipe LLA anak terus dikembangkan Sub Bagian Penelitian dan Pengembangan RS Kanker Dharmais. Baru-baru ini Sub Bahian Penelitian dan Pengembangan Rumah Sakit Kanker Dharmais berhasil mengembangkan pemeriksaaan terbaru untuk menentukan gen pada LLA anak yang menentukan stratifikasi risiko secara molekuler secara tepat guna dan cost effective. Dengan metode MLPA (Multiplex Ligation-depensent Probe Amplidication) mereka berhasil memeriksa berbagai metode MLPA ini sendiri sebenarnya sudah dikerjakan sebagai pelayanan di negara-negara Eropa. Pasien yang telah menjalani terapi mempunyai risiko untuk terjadinya relapse (kambuh). Kejadian relapse (kambuh) LLA anak dapat diprediksi dengan ditemukannya beberapa mutasi gen dengan metode MLPA tersebut.

Selanjutnya Fahreza Putra, S.Sci mengatakan bahwa di Rumah Sakit Kanker Dharmais sampai dengan saat ini sedang mengembangkan berbagai metode di bidang biomolekuler termasuk untuk kanker anak. Metode MLPA (Multiplex Ligation-depensent Probe Amplidication), yaitu pemeriksaan berbasis perbanyakan gel (polymerase chain resection) menggunakan beberapa probe (pewarna) yang secara spesifik mengenali gen-gen target, untuk menganalisis perubahan jumlah salinan gen sebagai indikator adanya kelainan genetik.

Lebih lanjut Fahreza menyampaikan tentang analisis genetika untuk memperbaikinya (LLA) pada anak, meningkatan presisi stratifikasi risiko, memperbaiki klasifikasi sub tipe LLA anak dan memprediksi pemberian rejimen terapi yang tepat uang yang diharapkan dapat meningkatkan harapan hidup pasien.

 

Humas – Rumah Sakit Kanker Dharmais