Penyakit kanker memang terdengar menyeramkan, meski begitu banyak masyarakat belum mampu melakukan deteksi dini kemunculan kanker. Bahkan terkadang mengabaikan kemunculan benjolan di area tubuh yang merupakan salah satu gejala umum kanker.


“Jika memeriksakannya ke dokter, malah ada rasa takut bahwa benjolan itu betulan kanker. Jadi banyak pasien yang datang dengan kondisi benjolan sudah besar,” kata dr. Bob Andinata SpB(K)Onk selaku spesialis Bedah Onkologi di Rumah Sakit Kanker Dharmais. Alasan tersebut sering beliau dengar dari pasiennya saat ditanya mengapa baru datang ketika benjolan sudah besar, padahal sejak benjolan berukuran kecil pun sebaiknya diperiksakan.
Cepat atau lambatnya deteksi dini berdampak pada penanganan dan dapat memengaruhi tingkat keberhasilan pengobatan. Hal ini berlaku bagi semua jenis kanker termasuk kanker tiroid.


Kanker tiroid adalah kanker yang berkembang di kelenjar tiroid. Kanker ini terjadi ketika terdapat perkembangan tidak normal sel-sel di kelenjar tiroid. Letak kelenjar tiroid berada di leher bagian depan, sedikit di bawah laring atau jakun. Kelenjar yang berbentuk kupu-kupu ini bertanggung jawab mengirimkan hormon ke seluruh tubuh untuk melakukan pekerjaan penting yakni mengatur metabolisme, pertumbuhan, perkembangan, serta suhu tubuh. Hormon yang dihasilkan kelenjar tiroid juga memengaruhi kerja organ tubuh lain seperti jantung, pencernaan, otot, dan sistem saraf.


dr. Bob mengatakan bahwa kanker tiroid termasuk jenis kanker yang memiliki tingkat keberhasilan atau survival rate yang cukup tinggi. Sebagian besar jenis kanker tiroid bisa diobati dan pasien dapat hidup lama, sehat, serta normal kembali.


Kemunculan kanker ini seringkali ditandai dengan adanya nodul atau benjolan yang terdapat di bagian tengah leher. Seiring dengan berkembangnya kanker, benjolan tersebut akan semakin membesar. Namun, banyak kasus pasien tidak menyadari adanya kanker tiroid pada tahap awal. Tidak adanya rasa sakit yang dialami membuat beberapa orang mengabaikan tumbuhnya benjolan yang sebenarnya tak biasa tersebut. Benjolan akibat kanker tiroid tidak sakit saat ditekan, terasa keras, dan mudah bergerak mengikuti gerakan saat menelan.


Selain muncul benjolan, ada beberapa gejala kanker kelenjar tiroid lain yang sering kali muncul terutama jika sudah masuk stadium lanjut, di antaranya:
1. Benjolan disisi lateral / samping leher
2. Suara serak yang tidak kunjung membaik
3. Kesulitan menelan
4. Kesulitan bernapas


“Benjolan pada kanker tiroid bukan jenis tumor yang akan terasa sakit,” kata dr. Bob dalam wawancaranya dengan Hello Sehat.
“Jika terasa nyeri saat datang ke dokter, berarti benjolan tersebut sudah besar sekali sampai menyumbat saluran napas, suara serak, makan terganggu, dan itu sudah berat,” lanjut Bob memaparkan.


Padahal jika merasa ada benjolan di leher, sebaiknya pasien langsung memeriksakannya ke dokter. Dengan begitu, pasien memiliki waktu yang panjang untuk pengobatan. Sebab kanker kelenjar tiroid termasuk jenis slow growing tumor atau kanker yang biasanya tumbuh sangat lambat.
Sampai saat ini penyebab kanker kelenjar tiroid belum diketahui. Deteksi dini kanker tiroid bisa dilakukan dengan memperhatikan faktor risiko dan tanda-tanda awal.


Beriku ini beberapa faktor risiko kanker tiroid seperti diuraikan oleh dr. Bob:
1. Jenis kelamin.
Kanker ini lebih banyak menyerang perempuan, hal ini dikarenakan kelenjar tiroid pada perempuan bekerja lebih keras saat mereka hamil, melahirkan, dan menyusui.
2. Usia.
Walaupun dapat menyerang semua usia, kanker ini lebih banyak terjadi pada wanita usia 40-50 tahun dan pria berusia 60-70an.
3. Paparan radiasi jangka panjang.
Radiasi dari radioterapi sekitar kepala, leher dan dada, dapat merusak DNA sel sehingga bisa meningkatkan risiko penyakit kanker ini.
4. Kekurangan yodium.
Jenis kanker ini kadang terjadi pada orang-orang yang asupan yodiumnya rendah.


Jangan takut untuk memeriksakan kondisi kesehatan Anda pada dokter sejak awal. Dengan melakukan deteksi dini, Anda bisa mendapatkan penanganan yang tepat dengan lebih cepat.