Perawatan pasien kanker pandemi

-----------------------------------------------

Selama pandemi, banyak pasien kanker yang tidak kontrol ke rumah sakit sesuai jadwal karena takut tertular COVID-19. Padahal, penanganan cepat dan tepat adalah kunci keberhasilan menuju kesembuhan pasien kanker. Karena itu Rumah Sakit Kanker Dharmais menyiapkan protokol screening ketat untuk menjaga pasien kanker terhindar dari COVID-19.

Menjaga pasien kanker dari infeksi COVID-19

Pasien kanker selalu diingatkan untuk berhati-hati terhadap penularan COVID-19 karena mereka termasuk dalam kelompok berisiko tinggi.

Virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 lebih mudah menginfeksi orang dengan daya tahan tubuh lemah, misalnya pada lansia dan orang dengan penyakit penyerta termasuk kanker.

Dokter Jaka Pradipta, spesialis kanker paru Rumah Sakit Kanker Dharmais, menjelaskan bahwa orang yang mengidap kanker berarti di tubuhnya sedang ada proses peradangan. Hal tersebut umumnya membuat daya tahan tubuh kurang bagus.

Menurut data organisasi kesehatan dunia (WHO), pasien kanker yang terinfeksi COVID-19 berisiko mengalami komplikasi (perburukan gejala) serius dibandingkan dengan pasien tanpa kanker. Risiko ini lebih tinggi lagi pada pasien yang sedang menjalani pengobatan kemoterapi atau radioterapi.

Dua studi dari Amerika Serikat dan Inggris menunjukkan tingkat kematian yang tinggi diantara pasien COVID-19 yang juga menderita kanker.

“Kankernya saja sudah bikin pasien sakit. Dengan ditambah COVID-19, kalau melihat data, pasien kanker bisa mengalami gejala lebih berat,” ujar dokter Jaka dalam wawancaranya dengan Hello Sehat, Kamis (23/7).

Dokter Jaka menekankan agar pasien kanker melakukan pencegahan COVID-19 jauh lebih ketat daripada orang-orang tanpa kanker. Caranya dengan menghindari keramaian, rajin mencuci tangan, dan selalu mengenakan masker. Selain itu, diutamakan mereka tetap ke rumah sakit dan tidak menunda penanganan.

Merawat pasien kanker selama masa pandemi

Hasil penelitian yang disebutkan sebelumnya dimaksudkan agar pasien kanker lebih berhati-hati dan selalu melakukan pencegahan penularan COVID-19 dalam setiap aktivitasnya.

Dokter Jaka berpesan pada pasien kanker untuk tidak terlalu stres dengan data risiko pasien kanker terhadap infeksi COVID-19. Stres karena khawatir berlebihan justru bisa membuat daya tahan tubuh pasien menurun apalagi ditambah dengan tertundanya penanganan.

Bagi pasien kanker, kontrol ke rumah sakit adalah keharusan terutama saat dijadwalkan untuk melakukan kemoterapi, radioterapi, ataupun tindakan operasi. Perlu diingat bahwa penundaan penanganan kanker bisa berisiko memperburuk kondisi pasien.

“Jangan sampai pasien aman dari COVID-19 tapi meninggal karena kanker,” kata dokter Jaka.

Saat ini rumah sakit telah melakukan pemeriksaan ketat untuk mencegah penularan COVID-19 pada pasien kanker.

Di Rumah Sakit Kanker Dharmais, setiap orang yang ingin memasuki gedung rumah sakit harus mengisi formulir berisi pertanyaan-pertanyaan seputar riwayat perjalanan dan penyakit. Setelah itu, pengunjung harus melakukan pengecekan suhu dan wawancara sederhana berkaitan dengan gejala yang dirasa serta maksud dan tujuan kedatangan.

Semua prosedur ini dilakukan di ruangan terbuka dengan pemantauan ketat supaya pengunjung tetap menjaga jarak aman atau physical distancing.

Setelah melewati screening tersebut, pengunjung baru diizinkan masuk gedung rumah sakit.

Pada pasien kanker, pemeriksaan terkait COVID-19 akan dilanjutkan dengan pemeriksaan swab tenggorokan (RT-PCR). Semua pasien harus terlebih dahulu melakukan diagnosis COVID-19, terutama pasien kanker yang akan melakukan tindakan medis berupa kemoterapi, radioterapi, atau operasi kanker.

“Jangan sampai pasien positif COVID-19 kita kemoterapi, nanti bisa jeblok. Kami (RS Kanker Dharmais) melakukan swab pada 50 sampai 100 pasien setiap harinya. Ini agar kami tahu bahwa pasien aman untuk melakukan pengobatan,” kata dokter Jaka.

RS Kanker Dharmais memiliki perangkat dan laboratorium sendiri untuk melakukan tes swab dan diagnosis COVID-19. Hasil pemeriksaannya dapat diketahui dalam waktu 2-3 hari. Ini lebih cepat daripada mengirimnya ke laboratorium pusat yang membutuhkan waktu paling tidak sepekan.

“Sekarang kita memasuki era yang sudah lebih siap. Karena senjata kami (ilmu pengetahuan tentang COVID-19, APD, dan ketersediaan tes swab) juga sudah lumayan lengkap,” pungkasnya.

Bagaimana jika pasien kanker RS Kanker Dharmais positif COVID-19?

Bila pasien terbukti positif COVID-19, langkah pertama yang harus dilakukan adalah supaya jangan panik. Pasien masih memiliki kemungkinan untuk sembuh dari COVID-19. Data memang berbicara banyak mengenai kefatalan COVID-19 pada pasien kanker, tapi itu tidak mutlak.

Tidak sedikit pasien kanker bisa sembuh dari COVID-19. Bahkan, ada beberapa kasus spesial pasien positif COVID-19 yang hanya menunjukkan gejala ringan.

Selain itu, ada beberapa kasus pasien COVID-19 usia muda tanpa penyakit penyerta yang mengalami perburukan gejala hingga harus dirawat di IGD.

“Jadi, orang muda yang merasa sehat jangan terlena dan orang yang punya komorbid (penyakit penyerta) jangan terlalu panik. Soalnya, kalau sudah panik daya tahan tubuh akan menurun,” ujar dokter Jaka.

Jika pasien kanker RS Kanker Dharmais dinyatakan positif COVID-19, pasien tersebut akan di rawat di ruang isolasi RS Kanker Dharmais agar penyakit kanker dan COVID-19-nya selalu dalam pemantauan dokter.

Saat sudah dinyatakan negatif, barulah dokter yang bersangkutan akan menentukan kapan pasien harus melakukan kontrol ke rumah sakit dan kapan bisa kontrol secara online.