RSK Dharmais menyelenggarakan Workshop Peningkatan Kapabilitas Layanan Patologi Anatomi untuk rumah sakit jejaring di wilayah DKI Jakarta. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi sinergis bersama RSUP Dr. Sardjito, dan Roche Indonesia yang berlangsung pada Rabu, 12 November 2025, di Hotel Westin, Jakarta.
Plt. Direktur Utama RSK Dharmais, dr. R. Soeko W. Nindito D., MARS, penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang berperan dalam penyelenggaraan workshop ini. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah strategis dalam usaha untuk meningkatkan pemahaman serta penerapan praktik terbaik dalam penanganan kanker payudara secara komprehensif, sebagaimana digariskan dalam Rancangan Rencana Aksi Nasional Kanker Payudara. Kegiatan ini juga sebagai langkah strategis yang dimulai dari aksi, meskipun perencanaan lebih rinci masih dalam proses penyusunan.
“Saya sangat berbahagia karena Rumah Sakit Kanker Dharmais, yang diberi kepercayaan oleh Kementerian Kesehatan sebagai rumah sakit pengampu, kembali dapat berkolaborasi dengan jejaring rumah sakit di wilayah DKI,” ujarnya.
Kementerian Kesehatan bersama RS Kanker Dharmais sebelumnya telah menyusun National Cancer Control Program (NCCP), pedoman untuk merencanakan program pengendalian kanker secara terstruktur. Dharmais juga telah meluncurkan Rencana Aksi Nasional (RAN) Pengendalian Kanker Serviks, sebuah strategi yang diakui secara nasional maupun internasional karena bertujuan menurunkan angka kejadian kanker serviks.
Sementara itu, Rencana Aksi Nasional (RAN) Pengendalian Kanker Payudara masih dalam proses penyusunan. Dokumen ini disiapkan agar selaras dengan target Kementerian Kesehatan, yaitu mencapai 70% angka kesintasan lima tahun bagi pasien kanker payudara pada tahun 2034. Untuk mencapai target tersebut, maka pentingnya memahami tujuh program dasar pengendalian kanker.
“Jika berbicara mengenai pengendalian kanker, ada tujuh program basic-nya, yaitu promotif–preventif, deteksi dini, diagnosis dan tatalaksana, cancer registry, pendidikan dan penelitian, rehabilitasi, serta paliatif,” jelasnya.
Dalam penyusunan NCCP, beberapa program tersebut mengalami pengelompokan ulang. Diagnosis, tatalaksana, dan paliatif digabungkan dalam satu kluster, sementara aspek rehabilitasi belum terlihat secara jelas. Kemitraan dengan masyarakat juga menjadi strategi baru, namun pendidikan dan pelatihan masih belum tercantum, padahal keduanya sangat penting bagi pengembangan layanan kanker.
“Jika kita lihat pengelompokannya, terdapat promotif–preventif, deteksi dini dan skrining, diagnosis dan tatalaksana kanker serta paliatif, penguatan cancer registry dan penelitian, kemudian yang baru itu strategi kemitraan, serta strategi tata kelola akuntabilitas atau manajemen kanker,” jelasnya.
Lebih lanjut, dr. Soeko menekankan bahwa misi utama kegiatan ini adalah membangun kolaborasi. Menurutnya, pengendalian kanker tidak dapat diselesaikan oleh satu rumah sakit atau satu sistem kesehatan saja.
“Kita harus membangun kolaborasi, termasuk melibatkan yayasan-yayasan yang mendukung program pengendalian kanker,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa pemeriksaan patologi anatomi kerap dianggap memakan waktu lama, padahal prosesnya memang kompleks. Dimulai dari tahapan pra-analitik yang melibatkan persiapan sampel, dilanjutkan analitik yang membutuhkan ketelitian tinggi, hingga akhirnya dapat menentukan jenis kanker dan terapi yang tepat.
“Pada bagian inilah masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang harus diperbaiki. Karena itu, sambil menyusun rencana aksinya, kami sudah mulai melakukan pelatihan seperti ini untuk memperkuat layanan patologi anatomi,” tambahnya.
Selama workshop ini, para peserta diberikan kesempatan untuk mendalami berbagai aspek dari pemeriksaan patologi anatomi. Mulai dari teknik pengumpulan sampel yang tepat, pemenuhan standar persyaratan, hingga prosedur yang benar untuk mendapatkan hasil diagnostik yang optimal. Peningkatan pemahaman dan kapabilitas ini diharapkan dapat memperkuat layanan patologi anatomi di seluruh rumah sakit yang terlibat dalam jejaring.
dr. Soeko mengungkapkan keterlambatan diagnosis masih menjadi kendala di banyak rumah sakit, baik karena pasien datang terlambat maupun karena proses pelayanan yang belum optimal. Oleh karena itu, tujuan akhirnya adalah meningkatkan mutu layanan dan mempercepat diagnosis kanker dengan memperkuat enam program utama, promotif–preventif; deteksi dini dan skrining; diagnosis, tatalaksana, dan paliatif; penguatan cancer registry dan penelitian; strategi kemitraan; serta tata kelola dan akuntabilitas atau manajemen kanker.
“Dengan ini kasus dapat terdeteksi lebih awal, penanganannya lebih cepat dan efisien, biaya lebih terjangkau, dan angka harapan hidup pasien meningkat,” harap dr. Soeko.
Leave a Comment