RS Kanker Dharmais menerima kunjungan Direktorat Pengembangan Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan RI untuk membahas pengembangan layanan kesehatan, terutama pemanfaatan terapi regeneratif dan inovasi medis melalui pendampingan teknis, yang berlangsung di Jakarta pada 12 November 2025.

Direktur Pengembangan Pelayanan Kesehatan Rujukan, dr. Yanti Herman, SH., M.H.Kes., menjelaskan bahwa kunjungan ini berfokus pada tiga area pembinaan, yaitu kedokteran presisi, layanan sel punca (stem cell), dan pelayanan darah. Ketiga area tersebut menjadi indikator penting untuk memastikan bahwa kebijakan yang akan disusun dapat diterapkan dengan baik di lapangan dan sejalan dengan tujuan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, yang secara tegas pemerintah mendukung inovasi pelayanan kesehatan. Karena itu, diperlukan pemahaman yang jelas mengenai bagaimana pelaksanaannya di rumah sakit agar implementasinya dapat berjalan optimal.

“Terima kasih kepada Plt. Direktur Utama beserta jajaran direksi yang sudah menerima kunjungan kami ini. Jadi, kunjungan ini tidak hanya melihat kedokteran persisi dan stem cell saja, tetapi ingin melihat juga pelayanan darah,” terangnya.

Direktorat Pengembangan Pelayanan Kesehatan Rujukan memiliki tugas dan fungsi yang tidak hanya mencakup inovasi pelayanan kesehatan, tetapi juga uji klinis, pengembangan teknologi robotik di bidang kesehatan, Clinical Research Unit (CRU), penelitian translasional, kedokteran presisi, serta pengembangan wisata medis yang semua itu turut menjadi indikator.

dr. Yanti mengatakan bahwa saat ini Kementerian Kesehatan sedang melakukan perbaikan terhadap peraturan yang sudah ada, sekaligus menyusun regulasi baru yang sebelumnya belum pernah diatur. Salah satunya adalah mengenai kedokteran presisi, yang hingga kini belum memiliki aturan khusus, termasuk terkait pemeriksaan dan analisis genetika. Karena itu, diperlukan pemahaman mengenai bagaimana penyelenggaraan dan pelaksanaannya di rumah sakit selama ini agar dapat menjadi dasar penetapan indikator.

“Pendampingan dalam pembinaan ketiga layanan tersebut melibatkan sejumlah instansi terkait, seperti BB Binomika hingga BPOM,” ungkapnya.

Terkait pelayanan darah, tantangannya cukup besar, yaitu memenuhi kebutuhan darah hingga 2% dari jumlah penduduk yang dihitung per kabupaten/kota. Sementara itu, untuk layanan stem cell, pelaksanaannya berada pada rumah sakit penelitian berbasis pelayanan. Penelitian translasi di bidang ini juga akan menjadi komponen penting untuk pemenuhan indikator dalam penyusunan kebijakan, baik di Renstra maupun RPJMN.

“Selanjutnya, kami juga ingin memastikan bahwa butir-butir yang telah dibahas sebelumnya tidak menghambat penelitian berbasis pelayanan yang sudah berlangsung di RSK Dharmais, khususnya untuk layanan stem cell,” tambahnya.

dr. Yanti berharap kegiatan ini dapat menjadi ruang untuk saling mendukung dalam mencapai tujuan bersama, yaitu memastikan layanan-layanan inovatif dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Plt. Direktur Utama RSK Dharmais, dr. R. Soeko W. Nindito D., MARS, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan Kementerian Kesehatan kepada RS Kanker Dharmais sebagai salah satu rumah sakit yang menerima pendampingan teknis dalam pengembangan layanan kesehatan oleh Direktorat Pengembangan Pelayanan Kesehatan Rujukan, khususnya terkait pemanfaatan terapi regeneratif dan berbagai inovasi medis.

Kunjungan ini bertujuan untuk melihat secara langsung implementasi inovasi pelayanan kesehatan serta kesiapan rumah sakit dalam mendukung kebijakan nasional. dr. Soeko menegaskan bahwa berbagai upaya inovatif telah dijalankan secara bertahap, meskipun harus melalui proses panjang dan menghadapi beragam tantangan regulatif.

“Kami tentu bertanya-tanya apakah kami cukup mampu melaksanakan semua inovasi ini. Namun di balik keraguan, sudah banyak langkah yang dilakukan teman-teman di RSK Dharmais, dan hasilnya mulai terlihat dari proses kegiatan yang telah berlangsung,” ujarnya.

Menurut dr. Soeko, jika melihat perkembangan layanan, RS Kanker Dharmais terus berupaya meningkatkan produktivitas layanan transplantasi, setelah dua tahun lalu Kementerian Kesehatan menyoroti rendahnya jumlah tindakan di rumah sakit vertikal. Hingga kini RS Kanker Dharmais telah menjalani transplantasi sekitar 12 pasien, jumlah yang masih jauh di bawah negara lain, namun menunjukkan tren perbaikan.

“Transplantasi membutuhkan biaya besar dan persiapan panjang. Pengalaman dari kasus yang ada memberikan bekal agar ke depan layanan ini dapat ditawarkan lebih luas tanpa membebani pasien,” katanya.

Untuk layanan sel punca (stem cell), RSK Dharmais belum memulai implementasinya, sementara teknologi CAR-T Cell menjadi fokus pengembangan setelah lebih dari dua tahun dipersiapkan. Pengadaan mesin CAR-T Cell senilai Rp15 miliar akhirnya dapat direalisasikan melalui kerja sama dengan Viva Foundation, dengan komitmen tertentu untuk pelayanan pasien.

“Kami sebelumnya berencana memproduksi CAR-T Cell sendiri, namun rencana tersebut tertunda karena proses prosedur yang cukup panjang, sehingga Indonesia tertinggal dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia yang sudah lebih dulu melakukan produksi,” terang dr. Soeko.

Lebih lanjut, RS Kanker Dharmais juga mengembangkan pemeriksaan genomik atau layanan pemeriksaan genetika untuk mendeteksi kerentanan genetik terhadap jenis-jenis kanker tertentu melalui pemeriksaan 113 parameter. Namun, setelah bantuan reagen berakhir, layanan ini menjadi membutuhkan biaya yang lebih tinggi dan waktu pemrosesan yang lebih lama.

“Dulu biayanya masih lebih murah karena reagennya merupakan bantuan. Karena itu, jika layanan ini ditetapkan sebagai target strategis, perlu ada fasilitasi pembiayaan agar dapat berjalan secara berkelanjutan,” tambahnya.

dr. Soeko menekankan pentingnya dukungan regulasi yang selaras dengan pengembangan layanan kanker. Beberapa kebijakan lintas sektor, termasuk perizinan dari Badan POM, dinilai berpotensi memengaruhi kelancaran implementasi layanan inovatif di rumah sakit. Sehingga, jangan sampai ketika proses sudah berjalan jauh, muncul aturan baru. Misalnya terkait stem cell, yang justru membuat rumah sakit harus mundur kembali.

“Kami ingin memastikan RS Kanker Dharmais tetap menjadi pusat rujukan yang dibanggakan. Semua pihak pasti punya niat baik, dan kami berharap kolaborasi ini terus menguat,” tutup dr. Soeko.

Share:

Tags: Inovasi Layanan Kesehatan, Kemenkes

Leave a Comment