RUMAH SAKIT KANKER DHARMAIS SEBAGAI PUSAT KANKER NASIONAL

Institusi pelayanan kanker terdiri dari 3 format, yaitu unit kanker (cancer unit), pusat kanker (cancer center), dan pusat kanker komprehensif (comprehensive cancer center). Cancer unit sebagai salah satu unit pelayanan khusus yang dibentuk di suatu rumah sakit umum yang melayani pelayanan pasien kanker dan pelayanan paliatif dan hospis pasien kanker. Cancer center dapat berupa klinik kanker, rumah sakit kanker, maupun gedung layanan terpadu kanker di komplek rumah sakit umum dimana layanan yang diberikan dapat bersifat organ teretentu. Sedangkan Comprehensive cancer center adalah Cancer center yang melakukan pelayanan kanker yang lengkap dimulai dari pencegahan sampai paliatif, dan juga menyelenggarakan penelitian serta pendidikan dan pelatihan di bidang kanker secara lokoregional atau nasional, dalam hal ini sebagai pelaksana teknis suatu Program Penanggulangan Kanker Nasional ( kerangaka kerja WHO). Juga bertingak sebagai rujukan nasional dalam 7 program penanggulangan kanker tersebut. Hal ini menyebabkan suatu Cancer Centre  harus terakreditasi baik nasional maupun akreditasi internasional1.

Kerangka kerja Comprehensive Cancer Center memiliki tiga lapisan: manajemen klinis (clinical management), pelayanan klinis (clinical services), dan pelayanan inti (core services). Kerangka kerja ini menyediakan titik referensi untuk perencanaan untuk pusat yang komprehensif, bahkan jika ini tercapai secara bertahap seiring pendanaan dan kapasitas dibangun. Clinical management terdiri dari rencana perawatan pasien (patient care plans) dan panduan praktek klinis (clinical practice guideline) dimana sebagai Pusat Kanker Komprehensif itu memiliki peran sangat penting dalam mengembangkan dan menyebarluaskan panduan perawatan kanker secara lokal dan nasional karena panduan itu tidak terbatas hanya pada terapi tapi termasuk diagnostik dan manajemen gejala. Clinical services terdiri dari pelayanan awal pasien datang, radiodiagnostik, patologi anatomi dan patologi klinik, operasi, radioterapi, terapi kanker sistemik atau kemoterapi, perawatan paliatif, dan perawatan pendukung penyintas. Core services terdiri dari administrasi dan manajemen, sumber daya manusia, manajemen dan teknologi informasi, farmasi, pengendalian infeksi, pengendali mutu, keuangan, dan pendukung utama lainnya2.

Setiap negara di dunia wajib memiliki institusi pelayanan kanker baik berupa cancer unit, cancer center, maupun comprehensive cancer center. Indonesia telah memiliki Rumah Sakit Kanker Dharmais sebagai bagian dari Pusat Kanker Nasional yang bersifat komprehensif dengan sejarah yang cukup panjang dan terus memperbaiki kualitasnya dalam menjalani tugas dan fungsinya.

Pada sekitar tahun 1960-an, Bung Karno yang pada saat itu sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama bersama Ibu Fatmawati dan dr. Tambunan menunjuk Yayasan Fatmawati untuk berkoordinasi dengan Departemen Kesehatan dalam pengembangan Rumah Sakit Tumor di Indonesia, yang merupakan cikal bakal berdirinya Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD).

Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi serta cara hidup masyarakat Indonesia ditambah lagi dengan semakin meningkatnya kematian yang disebabkan oleh penyakit kanker menjadikan masalah kanker semakin penting. Diperlukannya pengelolaan penyakit kanker secara khusus dan sarana yang mampu menanggulangi penyakit kanker secara terpadu dengan teknologi mutakhir membuat para ahli untuk berpikir perlu didirikannya rumah sakit khusus kanker. Pada tahun 1988 terbentuklah tim pembuat usulan pendirian rumah sakit kanker, yang merupakan tindak lanjut dari perencanaan rumah sakit tumor di tahun 1960-an. Rancangan pelaksanaan diberikan kepada Presiden HM Soeharto sebagai pemilik Yayasan Dharmais yang meminta untuk membuat rumah sakit kanker tersebut. Pada tahun 1991 dimulai perencanaan pendirian rumah sakit khusus kanker di Indonesia. Hal ini merupakan hasil dari pertemuan antara Presiden RI kedua, Soeharto dengan Prof. Dr. dr. Arry Harryanto, SpPD, KHOM dan tim dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

RSKD didirikan pada bulan Mei 1991 dan pembangunannya diselesaikan pada 5 Juli 1993.  Rumah sakit ini diresmikan oleh Presiden HM Soeharto pada 30 Oktober 1993. Dalam kata sambutannya, beliau mengharapkan rumah sakit ini dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi upaya pencegahan dan penyembuhan penyakit kanker disertai pusat penelitian yang berbobot dan pusat pelayanan medik yang handal yang akan mendukung Program Penanggulangan Penyakit Kanker. Hal ini juga sesuai dengan tugas dan fungsi yang tercantum dalam Kepmenkes No.72/Menkes/SK/I/1993 mengenai organisasi dan tata kerja RSKD dimana sudah membentuk instalasi yang bergerak di bidang pelayanan, pendidikan, dan penelitian.

Kemudian pada tahun 2002 dengan menimbang visi yang telah ditetapkan bahwa di masa datang RSKD akan menjadi Rumah Sakit Kanker dan Pusat Kanker Nasional yang menjadi panutan dalam program penggulangan kanker di Indonesia, maka dikeluarkan SK Direktur Utama RSKD No HK.00.06.1.1812 tentang pembentukan Komite Persiapan Pusat Kanker Nasional RSKD yang bertugas untuk melakukan pengkajian tentang kedudukan, wewenang, fungsi, dan tugas Pusat Kanker Nasional,lalu menyusun konsep Pusat Kanker Nasional, menyusun konsep dan melaksanakan penelitian kanker, pelatihan, dan registrasi kanker.

Pada tahun 2008 dilakukan pengkajian dan pendefinisian kembali peran Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD) sebagai bagian Pusat Kanker Nasional yang mana institusi ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih dalam pelaksanaan Program Pengendalian Kanker Nasional yang nyata dengan mendukung program yang telah dicanangkan oleh Departemen Kesehatan lalu pada akhirnya tanggal 1 November 2017 ditetapkanlah RS Kanker Dharmais Jakarta sebagai Pusat Kanker Nasional berdasarkan Kepmenkes RI No.HK.01.07/Menkes/531/2017.

Dengan menimbang upaya penanggulangan dan pengobatan penyakit kanker perlu dilakukan secara terpadu dan paripurna, untuk itu maka perlu ditangani secara multidisiplin yang melibatkan berbagai disiplin keilmuan di bidang kedokteran yang terkait, SK Direksi Perjan RSKD No KP.04.04.1.5018_A tahun 2005 tentang Pembentukan Tim Kerja (Timja) Pelaksanaan Kanker Terpadu di Rumah Sakit Kanker Dharmais ditetapkan berdasarkan sistem organ yaitu Kanker Ginekologi, Kanker Darah dan Sistem Limfoid, Kanker Kulit, Kanker Mata, Kanker Paru dan Thoraks, Kanker Payudara, Kanker Hati dan Saluran Cerna, Kanker Muskuloskeletal,  Kanker Susunan Syaraf Pusat dan Susunan Syaraf Tepi, Kanker THT, Kanker Urologi, dan Kanker Kelapa Leher diluar dari sistem organ ditetapkan juga Timja Kanker Anak baik untuk solid tumor maupun non solid tumor.

Pembentukan timja yang telah dilakukan oleh RSKD telah sama dengan apa yang dilakukan oleh pusat kanker lainnya di dunia. Pertemuan timja membuka kesempatan para dokter dari berbagai disiplin ilmu berdiskusi tentang diagnosis dan menentukan rencana managemen dan terapi bagi pasien kanker. Pertemuan timja umumnya terdiri dari dokter spesialis penanggung jawab pasien (sesuai dengan diagnosis), dokter spesialis bedah, dokter spesialis radio-onkologi, dokter spesialis radiologi, dokter spesialis patologi, perawat dan dokter umum timja, dan dapat juga tenaga ahli lainnya. Untuk institusi yang besar, seringnya memiliki timja yang banyak tergantung pada organ masing-masing3.

Program Pengendalian Kanker Nasional di Indonesia telah disusun oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan tentu membutuhkan kontribusi besar dari Pusat Kanker Nasional untuk mewujudkan tujuan program tersebut. Adapun program pengendalian kanker nasional terdiri dari pencegahan, deteksi dini – skrining, diagnostik dan terapi, surveilans dan registrasi kanker, penelitian, perawatan paliatif, dan rehabilitasi.

RSKD telah memiliki instalasi-instalasi yang bergerak di bidang sesuai dengan program pengendalian kanker nasional tersebut, yaitu Instalasi deteksi dini dan Onkologi sosial,  Instalasi diagnostik (Laboratorium terpadu dan Radiodiagnosis), instalasi bidang terapi (Bedah-Kemoterapi-Radiasi), instalasi Paliatif dan Hospis, instalasi rehabilitasi medik, instalasi pendidikan dan penelitian, Instalasi data beban kanker dan Jejaring, dan seluruh instalasi lainnya yang mendukung lancarnya kegiatan di bidang Pelayanan, Pendidikan, dan Penelitian dibidang kanker (Epidemiologi – Klinis- Molekular– Clinical trial).

Sesuai dengan sistem rujukan yang saat ini berlaku di Indonesia, RSKD merupakan rujukan Nasional, semakin perlu mengevaluasi dan menemukan rencana kerja terbaik untuk menangani pasien dalam stadium apapun atau telah mengalami keterlambatan baik keterlambatan diagnostik, keterlambatan terapi, maupun keterlambatan karena sistem manajemen kesehatan. Kerjasama pendidikan dan sistem rujukan balik serta penyamaan panduan praktek klinis dengan puskesmas maupun rumah sakit tipe C, D sampai B perlu ditingkatkan.

 

Reference:

1Sirohi B, Chalkidou K, Pramesh CS, et al. Developing institutions for cancer care in low-income and middle-income countries: from cancer units to comprehensive cancer centres. Lancet Oncol. 2018;19(8):e395-e406. doi:10.1016/S1470-2045(18)30342-5

2Gospodarowicz M, Trypuc J, D’Cruz A, et al. Cancer services and the comprehensive cancer center. Cancer: Disease Control Priorities, Third Edition (Volume 3). 2015;

3El Saghir, Nagi S., et al. “Tumor Boards: Optimizing the Structure and Improving Efficiency of Multidisciplinary Management of Patients with Cancer Worldwide.” Am Soc Clin Oncol Educ Book 34 (2014): e461-6