Temukan Kanker Pada Anak Sejak Dini

Hai Sahabat Dharmais, mari kita lebih aware terhadap kanker yang dapat terjadi pada anak-anak, kita perlu pahami apa itu kanker, dan siapa yang berisiko terkena kanker serta bagaimana melakukan deteksi dini kanker pada anak?

Hal inilah yang menjadi bahasan pada Seminar Hybrid (offline dan online) "Pengenalan Gejala Dini Kanker pada Anak" acara ini diinisiasi oleh YOAI (Yayasan Onkologi Anak Indonesia) berkolaborasi dengan RS Kanker Dharmais dan didukung oleh CHAI (Clinton Health Access Initiative) pada tanggal 3 Desember 2022 bertempat di Auditorium RS Kanker Dharmais, Jakarta.

Kanker atau tumor ganas adalah pertumbuhan sel atau jaringan yang tidak terkendali dan terus bertambah. Sel kanker dapat menyusup ke jaringan sekitar dan dapat membentuk anak sebar. Kanker dapat menyerang semua usia, dari bayi hingga orang lanjut usia. Namun, kanker pada anak berbeda dengan dewasa.

Apakah kanker pada anak dapat disembuhkan?
angka kesembuhan kanker pada anak akan lebih baik jika ditangani pada stadium dini.

RS Kanker Dharmais sebagai Pusat Kanker Nasional tentunya telah menyediakan pelayanan untuk pengobatan kanker pada anak, baik fasilitas, serta para tenaga ahli dari berbagai multidisiplin ilmu yang mendukung dalam pengobatan kanker pada anak.

Namun saat ini, sayangnya pasien anak yang ke Rumah Sakit datang dalam keadaan stadium lanjut, sehingga pengobatan menjadi sulit dan tingkat kesembuhan menjadi rendah, sebetulnya kanker pada anak ini bisa diobati dan tingkat kesembuhannya cukup tinggi apabila ditemukan sejak dini, ujar Direktur Utama Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr. R. Soeko W. Nindito.

Melihat fakta tersebut telah banyak berbagai yayasan sosial pemerhati kanker anak yang bergerak untuk menanggulangi kanker pada anak dengan melakukan edukasi maupun bantuan dalam pengobatan kanker, seperti yang saat ini dilakukan YOAI berkolaborasi dengan RS Kanker Dharmais dan CHAI, yaitu memberikan edukasi hybrid kepada kader dan tenaga kesehatan puskesmas, diharapkan edukasi ini tepat sasaran sehingga dapat mencegah keterlambatan diagnosis dan pengobatan pada pasien kanker anak.

Saat ini, Rumah Sakit Kanker Dharmais sedang mengembangkan gedung pelayanan, yang akan menjadi pusat dari pelayanan kanker bagi wanita dan anak, di mana di dalamnya terdapat teknologi-teknologi terbaru, termasuk pengobatan presisi untuk penyembuhan kanker pada anak, lanjut dokter Soeko.

dr. Arum Ambar Sari, M.Epid., Kepala Seksi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Suku Dinas Keshatan Kota Administrasi Jakarta Barat, mewakili Kepala Suku Dinas Kesehatan Kota Administrasi Jakarta Barat, mengatakan bahwa penting bagi orang tua dan juga sebagai tenaga kesehatan untuk mengenali tanda dan gejala kanker pada anak, sehingga mendapatkan penanganan segera, dan tingkat kesembuhannya menjadi lebih besar dan angka kematian dapat ditekan.

Orang tua maupun petugas kesehatan diharapkan dapat mengenali kanker pada stadium awal, sehingga dapat dilakukan penanganan lebih lanjut sesuai dengan tingkat fasilitas kesehatan rujukan, lanjut dokter Arum.

Diharapkan dengan adanya kegiatan edukasi hybrid ini, dapat meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan baik di fasilitas kesehatan tingkat pertama, maupun pada fasilitas tingkat lanjutan sehingga dapat mendeteksi penyakit kanker anak dengan lebih baik.

Hasil ulasan dan diskusi dengan dokter anak dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, pasien kanker anak baru yang terdiagnosis sebagian besar sudah dalam stadium lanjut, sehingga tidak sedikit yang mendapatkan penanganan paliatif. Keterlambatan diagnosis dan pengobatan bagi pasien kanker anak disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah tingkat kewaspadaan dari anggota keluarga yang perlu ditingkatkan,” papar Ketua Umum YOAI, Rahmi Adi Putra Tahir.

Puskesmas sebagai ujung tombak dari pusat kesehatan masyarakat, dapat mencegah keterlambatan diagnosis dan pengobatan bagi pasien kanker anak,” tambah Rahmi.

Dokter spesialis anak konsultan hematologi onkologi anak RS Kanker Dharmais, dr. Haridini Intan S. Mahdi, Sp.A(K)., menjelaskan, gejala kanker pada anak sering tidak terdeteksi atau sulit dikenali, sehingga tenaga kesehatan berperan menilai secara dini. Dengan begitu, jika menemukan pasien anak dengan keganasan dapat segera dirujuk ke fasilitas yang memadai untuk mencapai prognosis yang baik.

“Kanker pada anak sulit untuk terdeteksi karena tidak ada gejala pada stadium dini. Selain itu anak tidak dapat merasakan perubahan. Berbeda dengan orang dewasa, anak tidak dapat menjelaskan sehingga orang tua harus lebih perhatian,” jelas dr. Haridini.

Lebih jauh dr. Haridini menjelaskan, terdapat beberapa jenis tumor yang sering ditemukan pada anak, yaitu kanker darah (leukemia) dan kanker atau tumor padat berupa retinoblastoma, Kanker otak, Limfoma, Rhabdomiosarkoma, Osteosarkoma, Neuroblastoma, Karsinoma nasofaring, Nefroblastoma, dll.

Pembicara dr. I Gusti Ngurah Agastya, Sp.KJ memaparkan tentang pentingnya mendeteksi kesehatan mental pada pasien kanker anak dan orang tuanya. Ada banyak faktor yang menyebabkan risiko gangguan mental pada pasien kanker anak.

Secara biologis, perkembangan otak belum optimal dan ada ketidak seimbangan neurotransmiter (dopamin, serotonin, dll). Anak juga belum bisa mengelola kondisi psikologis dalam hal ini mekanisme koping/ kemampuan mengatasi masalah.

“Belum lagi bicara soal faktor sosial, keluarga, ekonomi dan sebagainya. Anak-anak tidak bisa masuk sekolah dan bertemu teman-temannya karena harus menjalani perawatan panjang di rumah sakit,” jelas dr. Agastya.

“Tugas kita sebagai tenaga kesehatan adalah mengedukasi orang tua pasien bagaimana mengelola stres yang dialami orang tua dengan baik. Mereka bisa mengekspresikan emosi dengan cara yang sehat,” jelas dr. Agastya.

 

Humas RS Kanker Dharmais