Oleh : Dr. Maria .A. Witjaksono , MPLLA

Kemajuan teknologi banyak membantu bidang kedokteran dan cukup memberikan manfaat dalam diagnostik dan terapi kanker. Tapi, hal tersebut kadang membuat dokter menjadi kurang dalam memandang berbagai aspek manusia saat menghadapi pasien. Penanggulangan Kanker Terpadu Paripurna, perawatan paliatif adalah semua tindakan aktif guna meringankan beban penderita kanker, terutama yang tidak mungkin disembuhkan. Jadi, penanganan kanker tidak
lagi hanya mengobati penyakitnya, tetapi juga memperhatikan keluhan-keluhan yang dialami pasien, guna meningkatkan kualitas hidup pasien.

Perawatan paliatif merupakan pendekatan yang efektif dan relatif lebih murah, bagi pasien yang memiliki penyakit dengan stadium lanjut. Selain untuk mengurangi penderitaan dan meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarganya, terapi paliatif bisa mengantisipasi masalah yang mungkin timbul dan meminimalkan dampak progesifitas penyakit, sehingga pasien bisa berfungsi semaksimal mungkin sesuai dengan kondisinya sebelum meninggal hal ini disampaikan pada penyuluhan Awam pasien kanker dan Keluarga PKRS Rumah Sakit Kanker “Dharmais” dengan narasumber dr. Maria A. Witjaksono, MPLLA pada tanggal 09 oktober 2018 di ruang tunggu pasien poli lantai II dengan tema Peningkatan Kualitas Hidup Pasien Kanker.

Banyak diagnosis kanker yang dianggap sebagai vonis mati, atau akhir dari segalanya sehingga penderita mengalami kecemasan atau depresi berat karena merasa kehilangan harapan, kehilangan kebebasan beraktivitas, ketidakpastian, ketergantungan dan proses pengobatan yang memakan waktu lama dan mengakibatkan stres psikologis.

Selain itu, pada penderitaan juga bisa muncul yang disebabkan karena gejala fisik tidak mendapat penanganan yang memadai. Gejala fisik tersebut bisa terjadi akibat penyakitnya itu sendiri, seperti nyeri, penurunan berat badan, luka berbau, sesak nafas dan sebagainya. Gejala fisik juga bisa timbul akibat pengobatan yang sedang dilakukan. Misalnya saja kemoterapi dan radiasi, yang memberikan efek samping.

Kesulitan sosial juga terjadi pada pasien kanker. Misalnya, terjadi masalah hubungan interpersonal yang menyebabkan munculnya reaksi pasien dan reaksi keluarga, akibat dari penyakitnya sehingga merasa perubahan peran dalam keluarga, kesulitan keuangan, penyakit yang dirahasiakan. Terkadang muncul anggapan bahwa penyakitnya datang karena akibat hukuman, menyalahkan diri sendiri dan merasa hidup tak berguna.

Keinginan penderita kanker adalah terbebas dari keluhan fisik, yang menimbulkan penderitaan seperti nyeri. Pada perawatan paliatif, hal yang dituju adalah memperhatikan hal realistik yang akan dicapai oleh pasien. Perawatan paliatif menawarkan berbagai layanan dan tujuan yang konkrit, yaitu membantu dari penderitaan, mengobati rasa sakit dan gejala-gejala lainnya, perawatan psikologis dan spiritual, sistem dukungan untuk membantu individu yang hidup aktif, dan sistem pendukung untuk mempertahankan dan merehabilitasi keluarga individu.

“Bagi pasien yang sudah tidak bisa disembuhkan, jangan dibiarkan hidupnya hanya sekedar hidup menderita. Semua manusia akan meninggal, maka tindakan yang kita lakukan harus benar-benar bisa membuat hidup pasien berkualitas. Penelitian di luar negeri menyatakan bahwa pasien yang akan meninggal lebih memilih berada di tengah keluarga, dibandingkan di rumah sakit. Karena, saat meninggal yang dibutuhkan hanya keikhlasan dan doa, bukan menjadi
beban karena banyak menghabiskan biaya,“ menurut dr. Maria. Pasien kanker sering mengalami rasa nyeri dan merupakan kelainan yang mempengaruhi kualitas hidup pasien, dan berdampak serius bagi pasien dan keluarga. Masalah nyeri kanker sudah menjadi masalah besar di dunia, juga di Indonesia. Saat ini, ada 8 juta pasien kanker di Ameria Serikat, termasuk memiliki riwayat kanker.

Sekitar 90% nyeri kanker, sebetulnya bisa diatasi secara efektif dengan cara yang relatif sederhana, tapi kenyataanya masih ada pasien yang nyeri kanker tidak diobati dengan benar. Pengelolaan nyeri kanker dengan tepat dapat meningkatkan kualitas hidup pasien selama menjalani penyakit kankernya.

Perawatan paliatif mengobati ke bagian gejala yang muncul dan apa yang dirasakan oleh pasien. Misalnya pada pasien kanker payudara yang menimbulkan nyeri, obatnya bisa saja menggunakan kemoterapi untuk mengurangi. Tapi kenyataannya, banyak pasien saat bertemu dengan dokter ahli kanker justru sudah takut lebih dulu dengan kemoterapi dan operasinya.

“Pada perawatan paliatif, kita akan berikan konsultasi mengenai nyerinya, bahwa nyeri itu sangat mengganggu dan menurunkan kualitas hidup. Setelah pasien bisa menerima, maka akan mengerti bahwa kemoterapi itu penting,“ katanya