Dr.dr.Cita Herawati, Sp.THT, - KL (K)

Di Indonesia karsinoma nasoparing masih urutan ke 4 dari seluruh tumor ganas yang sering dijumpai. Untuk tumor ganas Kepala dan Leher karsinoma nasoparing merupakan urutan pertama, angka kematian yang tinggi disebabkan penderita datang terlambat, kesulitan membuat diagnosis ataupun faktor dokter sendiri. Gejala dini karsinoma nasofaring tidak khas, bahkan mirip gejala rhinitisatau sinusitis sehingga dokter tidak menyadari bahwa yang dihadapi adalah penderita karsinoma nasofaring . Bagi dokter pemeriksaan nasoparing bukan hal yang mudah, karena memerlukan teknik dan peralatan khusus . Apabila tidak teliti maka penderita akan mendapatkan penanganan yang keliru.
Nasofaring merupakan rongga dengan dinding yang kaku diatas, belakang , dan lateral. Kedepan berhubungan dengan ronggga hidung melalui koana. Tuba Eustachius terdapat pada dinding lateral, Dinding lateral ini dibentuk oleh lamina faringobalaris dari fasia faringlaris dan otot konstriktor faringeus superior. Antara pinggir atas otot ini dan basis krani ( sinus Morgagni) berjalan otot levator palatine dan bagian tulang rawan tuba eustachius yang diliputi faringeal interna dan eksterna. Kearah belakang atas dan depan yang merupakan bagian posterior sinus spehenoid dan bagian basilar tulang oksipital. Dinding ini dilapisai oleh fasia faringobasilaris yang menutupi atas servikal kedua. Secara anatomi, nasofaring merupakan bagian dari faring, meskipun secara marfologik atau fungsional lebih merupakan bagian dari hidung. Oleh karena itu nasoparing juga disebut post nasal space. Ruang nasofaring berbentuk kuboid yang dilapisi epitel berlapis gepeng. Android terletak pada batas dinding posterior dan atap nasofaring. Tuba Eustachius yang berbentuk hampir segitiga dengan puncaknya terletak diatas. Bermuara di nasofaring kira-kira 1 cm dibelakang ujung posterior konka inferior, Pinggir posteriortuba eustachius membentuk penonjolan kedalam pada dinding lateral nasoparing yang disebut torus tubarius. Pinggir anterior yang kurang menonjol diliputi mukosa yang melanjutkan diri kepinggir posterior palatum molle. Tepat dibelakang torus tubarius terletak resesus lateralis nasofaring atau fossa rosenmuller, suatu cekung dengan kedalaman yang dapat melebihi 1 cm dan diliputi epitel. Atau fossa Rosenmuller mempunyai hubungan dengan foramen laserum dan dasar kanalis karotikum di dalam os petrosus temporalis. Bagian bawah nasofaring berhubungan dengan oroparing , sehingga dengan demikian dasarnya dibentuk oleh permukaan dorsal palatum molle yang merupakan satu-satunya batas yang dapat bergerak.
Rongga Nasparing sebagian besar disi oleh jaringan limfoid yang merupakan bagian cincin Waldayer yaitu adenoid, jaringan lifoid pada fossa Rosenmuller, sekita muara tuba Eustachius dan jaringan limfoid yang lebih besar diseluruh lapisan submukosa. Jaringan limfoid ini mengalirkan getah bening ke kelenjar getah bening leher yang terletak didalam. Kelejar getah bening retrofaring Krause (Kelenjar Reuviere) merupakan kumpulan-kumpulan kelenjar getah bening yang penting, terletak dibagian teratas ruang parafaring ( Restrostyloid compartement ) dekat berbasis kranji depan lateral atlas.
Demikian letak kelompok kelenjar getah bening ini berdekatan dengan syaraf otak ke IX,X,XI dan XII, ganglion servikal superior arteri karotisinterna dan V jugularis interna. Saluran-saluran getah bening dari pleksus disubmukosa nasofaring dapat menuju ke kelenjar-kelenjar Rouvierew, kemudian dapat menujugandula servikalos superior profunda yang juga dapat menerima getah bening dari nasofaring. Ras mongoloid merupakan faktor dominan timbulnya Kasrinoma Nasofaring, sehingga kekerapan penyakit ini cukup tinggi pada penduduk cina selatan, Hongkong, Vietnam, Thailand, Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Di Indoneisa kekerapan penyakit ini hampir merata disetiap daerah..
Dinfeksi virus Epstien Barr berperan penting dalam timbulnya Karsinoma Nasofaring, virus ini dapat masuk kedalam tubuh dan tetap tinggal di orofaring, nasofaring, kelenjar parotis da, ludah tanpa menimbulkan gejala. Salah satu sel Target dari virus Epstien Barr ialah sel limfosit B. Untuk mengaktifkan virus ini dibutuhkan suatu mediator utama yang dapat mengaktifkan virus Epstien Barr sehingga menimbulkan Karsinoma Nasofaring.
Beberapa faktor yang dianggap berpengaruh menjadi mediator timbulnya Karsinoma selain ikan asin adalah :
1.Lingkungan dan kebiasaan hidup
Udara yang penuh asap-asap dirumah-rumah dengan ventilasi kuirang baik di cina, indonesia dan kenya juga meningkatkan kejadian Karsinoma, Pembakaran dupa dirum-rumah juga dianggap berperan dalam menimbulkan Karsinoma di Hogkong.
2.Sering kontak dengan bahan karsinogen seperti gas kimia, sap rokok, asap kayu, beberpa ekstrak tumbuhan.
3.Ras keturunan
4.Radang Kronik dinasofaring

Gejala Karsinoma Nasofaring
Gejala Karsinoma nasofaring dapat dibagi menjadi 4 kelompok , Gejala telinga, gejala mata, syaraf dan gejala mestatasis. Gejala Nasoparing dapat berupa epitaksis ringan atau sumbatan hidung.Gejala telinga merupakan gejala dini yang timbul karena tempat asal tumor dekat dengan muara tuva Euxtachius . Gangguan dapat berupa sinusitis, rasa tidak yaman ditelinga sampai rasa nyeri ( otalgia) . Sering Penderita datang dengan keluhan gangguan pendengaran. Karena nasofaring berhubungan dengan rongga tengkorak melalui beberapa lobang, maka gangguan beberara saraf otak dapat terjadi sebagai gejala lanjut karsinoma nasofaring. Penjalaran melalui fomen-fomen laserum akan mengenai N III,IV,VI dan dapat juga N V sehingga gejala diplopia sering membawa penderita berobat ke dokter mata, Neuralgia, trigeminal sering ditemukan oleh dokter saraf jika tidak terdapat keluhan lain.
Penjalaran melalui foramen julare akan mengenai N IX X,XI dan XII, Destruksi dar tengkorak juga dapat terjadi maka prognosis menjadi lebih buruk.Mestatis dapat terjadi pada Kelenjar Getah Bening leher dan mestatis jauh melalui aliran darah ( Hematogen ) ataupun melalui aliran limfe ( limfogen) ke paru, hati dan tulang.
Diagnosis
Gambaran Klinis Karsinoma nasofaring sangat diperlukan untuk meningkatkan kewaspadaan dokter terhadap pasien yang mempunyai resiko untuk terjadinya keganasan ini . Setelah dicurigai kemungkinan Karsinoma Nasofaring, Pemeriksaan yang menyeluruh dan teliti harus dilakukan untuk menentukan stadium penyakit. Pada stadium dini, keluhan yang ada sering tidak menimbulkan kecurigaan atas keberadaan tumor ini. Jika ada biasanya berupa keluahan telinga , hidung atau keduanya. Pada stadium lanjut kecurigaan penyakit ini mudah ditemukan berupa pembesaran kelenjar getah bening leher, gejala saraf ataupun gejala mestastasis jauh.
Protokol Diagnosis yang di perlukan sebagai tuntunan :
1.Pemeriksaan Nasofaring
a.Rinoskopi
b.Rinoskopi Posterior dengan bantuan Kateter
c.Endoskopi
2.Biopsi Nasofaring
3.Pemeriksaan Patologi Anatomi.
4.Pemeriksaan Radiologi
5.Pemeriksaan Serologi.