Oleh: Dinda Yulian Ardiani -Inst.gizi (Lomba Essay Hut RSKD 26)

Kanker ? Semua orang pasti mengenal istilah ini, tetapi Kanker yang dimaksud bukan singkatan dari kantong kering, istilah yang sering digunakan generasi Z saat tanggal tua. Kanker merupakan salah satu dari penyakit degeneratif yang sangat ditakuti keberadannya oleh masyarakat. Namun, akankah masyarakat sadar dengan pencegahan kanker itu sendiri? Semua orang pasti takut terjangkit penyakit kanker, tetapi tidak semua orang melakukan tindakan preventif yang benar terhadap pencegahan kanker.
Kanker adalah penyakit yang disebabkan rusaknya mekanisme pengaturan dasar perilaku sel, khususnya mekanisme pertumbuhan dan diferensiasi sel. Setiap manusia memiliki risiko menderita kanker karena pengaruh faktor internal maupun eksternal. Berdasarkan data dari American Cancer Society, kanker menjadi penyebab kematian kedua dan diprediksi beberapa tahun ke depan akan melampaui penyakit jantung sebagai penyebab kematian utama saat ini. Penyakit kanker juga menjadi masalah penyakit serius di Indonesia. Kementerian Kesehatan menyebutkan prevalensi penyakit kanker mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir.
Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi kanker di Indonesia mencapai 1,79 per 1000 penduduk, naik dari tahun 2013 sebanyak 1,4 per 1000 penduduk. Data Globocan tahun 2018 menunjukkan, kejadian penyakit kanker di Indonesia sebanyak 136,2 per 100.000 penduduk. Angka ini menempatkan Indonesia di urutan kedelapan dengan kasus terbanyak di Asia Tenggara, dan peringkat ke-23 se-Asia. Angka kejadian tertinggi pada laki-laki adalah kanker paru sebesar 19,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 10,9 per 100.000 penduduk. Kedua, kanker kolorektal (kanker kolon) dengan kejadian sebesar 16,2 per 100.000 penduduk. Pada perempuan, kasus tertinggi adalah kanker payudara sebesar 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 dan disusul oleh kanker leher rahim sebesar 23,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 13,9 per 100.000 penduduk.
Ada beberapa faktor penyebab kanker yang meliputi gaya hidup dan pola makan yang salah. Dewasa ini, banyaknya kejadian kanker bukan hanya dari keturunan saja, tetapi dari kurangnya latihan fisik, konsumsi makanan yang tidak sehat, kebiasaan merokok, dan konsumsi alkohol. Tingginya risiko kanker masih dapat dicegah dengan melakukan perubahan gaya hidup dan pemilihan makanan yang baik.
Berbicara tentang makanan tentu sangat penting bagi kehidupan kita. Makanan merupakan kebutuhan primer manusia. Namun, zaman globalisasi membuat semakin banyak modifikasi makanan yang malah menjadi penyebab berbagai macam penyakit. Contohnya, makanan junk food dan banyak makanan instant lainnya yang dijual secara online maupun di toko-toko makanan. Banyak masyarakat juga yang mempercayai berbagai macam informasi tentang penyebab kanker yang terkadang tidak terbukti secara ilmiah atau hanya mitos saja. Apa saja sih fakta penyebab kanker ?
1.Konsumsi sayur dan buah
Sayur dan buah merupakan sumber zat gizi mikro yang diperlukan untuk metabolism tubuh, pemeliharaan jaringan, dan zat pengatur dalam tubuh. Serat dalam sayur dan buah dapat menjadi detoksifikasi untuk mengeluarkan racun dalam tubuh. Namun, masih banyak masyarakat yang belum menyadari pentingnya sayur dan buah. WHO (World Health Organization) menganjurkan konsumsi sayur dan buah sebesar 400 g per orang per hari dengan komposisi sayur sebanyak 250 g dan buah sebanyak 150 g. Kementerian Kesehatan telah menetapkan bahwa konsumsi sayur dan buah menjadi indikator sederhana dalam gizi seimbang. Berdasarkan Pedoman Gizi Seimbang yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan, konsumsi sayur dan buah harian orang Indonesia sebanyak 300-400 g per orang per hari bagi anak balita dan anak usia sekolah, dan 400-600 g per orang perhari bagi remaja dan orang dewasa. Sekitar dua-pertiga dari jumlah anjuran konsumsi sayuran dan buah-buahan tersebut adalah porsi sayur. Sayur dan buah merupakan sumber vitamin dan antioksidan yang mudah didapat. Namun, jangan sampai sayuran dan buah-buahan yang Anda konsumsi justru menjadi sumber radikal bebas dalam tubuh akibat proses pemanasan. Beberapa hal yang menjadi penyebab kerusakan antioksidan, salah satunya dengan cara penggorengan. Penggorengan pada umumnya menggunakan suhu yang tinggi yakni berkisar 150oC-300oC. Komponen bioaktif seperti flavonoid, tanin, dan fenol rusak pada suhu diatas 50oC karena dapat mengalami perubahan struktur serta menghasilkan ekstrak yang rendah.


2.Konsumsi Kacang-Kacangan
Benarkah kacang-kacangan menjadi faktor pencetus kanker? Ya, pertanyaan ini sering saya dapatkan dari beberapa klien saya. Kacang-kacangan merupakan sumber protein nabati yang tentu dibutuhkan oleh tubuh kita. Journal of National Cancer Institute melaporkan, kacang-kacangan memiliki senyawa bioaktif yang berfungsi sebagai antioksidan dan antiinflamasi (peradangan) pada pasien kanker. Senyawa antioksidan pada kacang-kacangan meliputi karotenoid, fitostreol, fenol, fitoestrogen, dan vitamin E. Selain itu, terdapat zat gizi mikro selenium dan magnesium yang merupakan komponen utama enzim antioksidan. Bahkan, penelitian yang dilakukan pada penduduk Jepang dan Cina menunjukkan kandungan isoflavon pada kacang kedelai mampu menurunkan risiko kanker prostat pada pria. Namun, konsumsi kacang-kacangan juga harus sesuai dengan kebutuhan harian dan terdapat pembatasan pada pasien kanker dengan komplikasi ginjal atau hiperurisemia.
3.Pembatasan Gula, Garam, Lemak (GGL)
Gula, Garam, dan Lemak dibutuhkan oleh tubuh. Namun, asupan gula, garam, dan lemak berlebih dapat meningkatkan penyakit degeneratif, utamanya kanker. Batasan konsumsi gula, garam, dan lemak yang disarankan Kementerian Kesehatan per orang per hari adalah: Gula tidak lebih dari 50 g (4 sendok makan); Garam tidak melebihi 2000 mg natrium/sodium atau 5 g (1 sendok teh), dan untuk lemak hanya 67 g (5 sendok makan minyak). Monosodium Glutamat (MSG) juga merupakan salah satu jenis garam yang harus dibatasi. WHO membatasi penggunaan MSG tidak lebih dari 6 gram per hari.
4.Konsumsi Daging dan Olahannya
Daging merupakan bahan makanan sumber protein hewani dan sumber zat besi yang baik untuk pasien kanker. Pengolahan daging yang tidak tepat dapat merusak kandungan protein di dalamnya, seperti pembakaran dan pengasapan. Begitu pula dengan olahan daging awetan seperti bakso, sosis, nugget, kornet. Proses pengasapan dan pembakaran pada daging merah dapat menyebabkan munculnya zat karsinogenik: N-nitroso-compounds (NOC) and polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH), dan heterocyclic aromatic amines (HAA).


5.Gaya Hidup
Perkembangan teknologi semakin membuat orang menjadi malas beraktifitas, apalagi meluangkan sedikit waktunya untuk berolahraga. Padahal, olahraga dapat membakar lemak dalam tubuh, memperbaiki sel-sel tubuh, membantu kinerja organ tubuh secara produktif. Bahkan, orang yang terkena kanker pun juga disarankan melakukan olahraga sesuai dengan kondisi tubuhnya. Cancer Council Western Australia merekomendasikan 2 jenis olahraga untuk pasien kanker yaitu Sample Clinic Based dan Sample Home Based Program. Selain itu juga, hindari beberapa perilaku yang dapat memicu kanker seperti minum alkohol, merokok (tradisional maupun elektronik). Jalani hidup Anda berdasarkan 4 pilar Gizi Seimbang.

 

SUMBER:
1. Buku Ajar Gizi dan Kanker
2. Cancer Epidemiology, Biomarkers & Prevention
3. Globocan yang diambil dari website www.dharmais.co.id
4. Journal of National Cancer Institute
5. Journal of National Center for Biotechnology Information
6. Pedoman Gizi Seimbang 2014
7. Profil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018
8. www.thelancet.com/oncology Vol 16 December 2015