Oleh: dr. Eka Widya Khorinal, SpPD-KHOM 
SMF HOM RS Kanker Dharmais
Juara III lomba Essay Hut RSKD 2019


Saya masih ingat salah satu kalimat Bung Karno untuk membakar semangat perjuangan saat itu: “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan aku goncangkan dunia”. Maka saya pun sebagai dokter yang berkecimpung di bidang penanganan kanker Pusat Kanker Nasional RS Kanker Dhamais juga bisa bersuara lantang: “Beri aku MDT, niscaya akan kuberikan penangangan kanker terbaik yang pernah ada”.
MDT atau multi discipline team adalah bentuk kerjasama pengelolaan pasien kanker sebagai suatu tim yang melibatkan berbagai disiplin ilmu terkait untuk menentukan tatalaksana terbaik yang paling sesuai untuk seorang pasien kanker. Komposisi MDT dapat bervariasi tergantung dari jenis kanker dan ketersediaan tenaga pendukung di rumah sakit tersebut. Namun, umumnya MDT terdiri dari bidang onkologi medik, onkologi bedah, onkologi radiasi, patologi anatomi, patologi klinik, perawat bidang onkologi, rehab medik, fisioterapi, psikolog, ahli gizi, dan paliatif, Hasil akhir yang diharapkan adalah tercapainya pengobatan yang lebih efektif, efisien, mampu laksana dan paripurna. MDT bahkan dapat dikerjakan mulai sejak penapisan dan deteksi dini kanker, proses penegakkan diagnosis, terapi, hingga rehabilitasi. Oleh karena itu, tim ini diharapkan dapat berkumpul minimal satu kali dalam seminggu untuk membicarakan pasien kanker yang sedang ditangani.
Mari kita ambil contoh tatalaksana kanker payudara, sebagai kanker dengan angka kejadian tertinggi di Indonesia saat ini. Penapisan dan deteksi dini untuk kanker payudara meliputi tindakan mammografi maupun ultrasonografi payudara yang akan melibatkan dokter radiologi dan dokter umum untuk wawancara pasien. Bila ternyata ditemukan benjolan pada payudara langkah selanjutnya adalah biopsi atau pengambilan sampel jaringan tumor untuk mengetahui jenis kanker tersebut dengan melibatkan dokter onkologi bedah dan patologi anatomi. Pasien yang kemudian menjalani tindakan operasi dan apabila setelahnya membutuhkan terapi lanjutan berupa radiasi maupun terapi sistemik akan ditangani oleh dokter onkologi radiasi, onkologi medik, dan patologi klinik untuk persiapan sebelum terapi sistemik diberikan. Tidak jarang pasien kanker payudara yang telah menjalani operasi pengangkatan tumor mempunyai masalah gangguan gerak atau pembengkakan dari lengan yang sesisi dengan tumornya. Disinilah peran penting dari rehabilitasi medik dan fisioterapi yang bahkan persiapannya dapat dilakukan sebelum tindakan pembedahan dimulai. Apabila kemudian pasien mengalami komplikasi dari penyakitnya atau efek samping organ akibat pengobatan, maka MDT dapat melibatkan spesialisasi terkait seperti ahli gizi klinik untuk perbaikan nutrisi pasien, ahli jantung atau ginjal untuk gangguan di organ terkait, hingga tim paliatif untuk perawatan terapi suportif.
Demikian kompleksnya penanganan kanker, oleh karena itulah setiap rumah sakit yang menyediakan terapi kanker atau merupakan pusat kanker perlu membentuk MDT. Pelaksanaan MDT pada pasien kanker akan dapat memastikan pasien mendapatkan pelayanan tepat waktu dari tenaga ahli professional secara berkelanjutan dan harmonis. Untuk kepentingan yang lebih luas, tatalaksana kanker secara MDT juga akan memudahkan sistem registrasi kanker nasional sebagai data yang terintegrasi antar rumah sakit di Indonesia.
Penanganan kanker secara MDT sebenarnya sudah diatur oleh Permenkes nomor 430 tahun 2007. Apalagi di masa Jaminan Kesehatan Nasional (JKN-BPJS) yang berlaku saat ini, menghadirkan MDT dalam terapi kanker adalah pilihan yang tepat untuk mencapai efisiensi dan efektifitas tatalaksana. Namun sayangnya, pelaksanaannya belum berjalan secara luas. Kendala terbesar saat ini justru seringkali terletak pada ego dari anggota MDT itu sendiri. Ego tersebut mulai dari rasa “mampu” melakukan semuanya (single center person) hingga keterbatasan waktu untuk melakukan komunikasi antar anggota tim. Dalam hal ini, peran komite medik untuk menyusun konsep aturan MDT yang akan dijalankan di suatu rumah sakit terkait penanganan kanker menjadi penting. Aturan inilah yang nantinya harus dipatuhi oleh setiap anggota MDT untuk menghindari gesekan antar anggota tim.
Serupa halnya dengan permainan sepak bola, MDT juga memerlukan kerjasama harmonis antar “pemain” demi kesuksesan menjebol gawang lawan. Tidak ada satupun anggota tim sepak bola yang bisa mencetak gol-gol terbaik berkualitas dunia melalui perjuangan tunggal (single fighter). Maka demi terwujudnya hasil akhir terbaik dalam penanganan kanker di Indonesia, MDT adalah jawabannya.