Membiasakan atau Membiaskan Fakta? dr. Mururul Aisyi, SpA(K)*

Kanker adalah penyebab tertinggi kematian pada anak di dunia. Data dari tahun ke tahun,sejak 2010 sampai dengan 2014, kejadian kanker di RS Kanker Dharmais semakin meningkat. Namun, pasien yang datang ke RS Kanker Dharmais hanya 14.3% yang memiliki stadium awal, sisanya stadium lanjut. Hal tersebut berkebalikan dengan di luar negeri, di mana kesadaran masyarakat tentang kanker sudah tinggi. Untuk tumor padat, pasien yang paling banyak datang ke RS Kanker Dharmais sudah berada pada stadium 4 (61%). Sedangkan keberhasilan pengobatan kanker sangat tergantung dari stadium. Penolakan pengobatan pada kanker anak yang berpotensi dapat disembuhkan menimbulkan banyak diskusi dan debat. The International Society of Pediatric Oncology mendefinisikan penolakan sebagai keputusan untuk menghindari pilihan pengobatan yang direkomendasikan, salah satu faktornya adalah kurangnya saling pengertian antara pasien/keluarga dan tenaga medis profesional.1
Kenyataan tersebut sebagiannya diperngaruhi oleh informasi yang beredar bebas di media sosial. Sekitar 7 dari 10 pengguna internet dewasa di Inggris dan Amerika mencari informasi kesehatan online setiap tahunnya. Sering dilaporkan motivasi untuk mencari informasi kesehatan online diantaranya penyakit kronis, self-diagnosis, resep diagnosis baru, ketidakpuasan terhadap penyedia layanan kesehatan, dan pencarian terkait saran gaya hidup. Sebagian jurnalis mengutamakan keuntungan tanpa menghiraukan risiko informasi kesehatan online sehingga kualitas pelaporan tentang kesehatan sangat bervariasi.. Penekanan yang berlebihan terhadap keuntungan informasi kesehatan online dapat menyebabkan ekspektasi publik menjadi tidak realistis, bahkan berpotensi bahaya jika terdapat perilaku individu yang memberikan informasi yang menyesatkan tanpa adanya diskusi dengan tenaga profesional kesehatan.2
Dalam suatu penelitian di Arab Saudi, sebagian besar responden menggunakan Whatsapp (89.8%), diikuti Facebook (58.6%), dan Twitter (42.3%). Media sosial merupakan alat penting untuk informasi kesehatan yang memengaruhi perilaku orang dan praktik pengobatan sendiri. Karena pemenuhan pengobatan selalu menjadi topik untuk pasien dengan penyakit kronis, media sosial menambah dimensi lain yang mungkin menyediakan informasi tidak autentik dan menyesatkan serta sebagai alasan dalam menggunakan pengobatan yang tidak tepat. Terlebih lagi, interpretasi pesan dalam media sosial dapat menjadi sulit, membingungkan, dan tidak sepenuhnya dapat dipahami.3 Hal ini dapat menyebabkan pengambilan keputusan pengobatan tidak berdasarkan atas metode ilmiah yang pada giliranna akan merugikan pasien sendiri.
Pseudoscience menurut kamus Oxford adalah kumpulan kepercayaan dan praktik yang salah tanpa dilandasi suatu metode ilmiah.4 Bagaimana mendeteksi suatu artikel apakah itu benar (sience) atau pseudoscience (bad sience)?. Berikut adalah ciri- ciri sebuah informasi yang merupakan pseudoscience:
1.Too good to be true. Misalnya : satu obat dikatakan bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, atau dikatakan ada obat tertentu yang sama sekali tidak menyebabkan efek samping.
2.Based on ancient wisdom. Berdasarkan kepercayaan tutun temurun. Misalnya ketika sedang panas jangan memotong kuku. Kepercayaan tersebut hendaknya diuji dengan metoda ilmiah.
3.All-natural fallacy. Apakah benar semua yang berasal dari alam itu bagus dan aman? Misalnya kita mengambil singkong dari kebun kemudian dikupas dan dimakan. Hal tersebut akan menyebabkan keracunan, oleh karena itu perlu direndam terlebih dahulu. Jadi sesuatu yang alami tidak selalu aman. Sintetis tidak selamanya jelek dan alami tidak selamanya bagus. Yang benar adalah ilmiah. Dimulai dengan observasi, kemudian timbul pertanyaan. Setelah itu kita teliti dan membuat hipotesis. Lalu dilakukan eksperimen, diambil datanya dan menarik kesimpulan, begitu seterusnya. Jadi setelah observasi bukan langsung menarik kesimpulan
4.Suppressed miracle. Misalnya, terori konspirasi seperti dunia kedokteran menyembunyikan zat tertentu sebagai obat kanker karena keuntungan tidak terlalu besar dan semisalnya.
5.“It worked for me”. Saya minum obat A, saya sembuh. Saya minum obat B, saya sembuh.. Misalnya setelah makan bakso pak kumis, si A tertabrak. Apakah bakso pak kumis yang menyebabkan tertabrak?. Perlu dibuktikan lebih jauh karena hal tersebut baru merupakan sebuah observasi dan belum merupakan suatu ilmu/teori yang dihasilkan dari penelitian.
Penyimpangan pseudoscience mengambil dua bentuk umum. Kita dapat membedakan antara science denialism dan pseudotheory promotion. Science denialists didorong oleh rasa kebencian kepada teori ilmiah tertentu. Pseudotheory promoters didorong oleh aspirasi mereka untuk mengembangkan teori atau klaim mereka sendiri. Hal ini menyiratkan penolakan terhadap beberapa bagian dari science, namun hal itu bukan tujuan utama, melainkan hanya untuk memajukan teori mereka.5 Itu adalah titik yang signifikan bahwa semua orang yang disebut pseudoscientists menganggap diri mereka sendiri adalah scientist, tanpa awalan pseudo (palsu).6
.Tentu saja sebagai orang tua atau keluarga berhak mencari informasi. Namun, bagaimana agar tidak terjerumus kepada informasi yang salah. Sesuatu harus berdasarkan bukti. Dalam piramida kedokteran berbasis bukti, semakin keatas semakin valid. Yang paling bawah adalah ide/opini. Namun opini siapa? Dokter-dokter ahli dapat dijadikan sumber informasi. Jadi jika seorang awam memiliki pengalaman, belum bisa dijadikan evidence/bukti. Selain itu informasi di internet ada yang filtered dan unfiltered. Informasi yang sudah disaring adalah informasi yang sudah di review oleh dokter ahli atau peer group yg berisi para ahli. Tidak mudah mengambil informasi/pengetahuan dari internet. Oleh karena itu, ketika menemukan informasi dari internet, sebaiknya diskusikanlah dengan dokter yang menangani.
Meskipun informasi yang bisa diakses berlimpah, namun internet dikarakteristikan seringkali merupakan sumber informasi yang tidak terkontrol dan tidak termonitor oleh (peer review). Dalam informasi online siapapun dapat dapat mengklaim dirinya ahli. Kritik tertentu menemukan informasi kesehatan di internet menjadi buruk dan bahkan berbahaya, tidak akurat, salah, menyesatkan, curang, tidak lengkap, bertentangan atau berdasarkan pada bukti ilmiah yang tidak cukup. Tidak hanya informasi yang tidak lengkap, namun sering tidak berdasarkan bukti. Sebuah studi pada situs internet tentang topik terkait urologi menunjukkan bahwa jumlah website yang menyediakan informasi lengkap dan tidak bias hanya memiliki porsi kecil dibandingkan keseluruhan.7 Karena kebenaran seharusnya tidak berdasarkan kepercayaan terhadap seseorang, namun harus dikonfirmasi dengan fakta.4
Informasi tersebut juga dapat mengubah hubungan dokter dan pasien. Setidaknya ada tiga kemungkinan akan hal itu: 8
1.The health professional-centred relationship. Tenaga profesional kesehatan merasa terancam dengan informasi yang pasien bawa dan menanggapinya dengan menegaskan “opini ahli” mereka.
2.Patient-centred relationship. Tenaga profesional kesehatan dan pasien berkolaborasi dalam memperoleh dan menganalisis informasi.
3.Internet prescription. Tenaga profesional kesehatan akan mengarahkan pasien ke website terkait informasi kesehatan yang dapat dipercaya.
Oleh karena itu, di sisi lain penting bahwa tenaga profesional kesehatan juga memperhatikan pencarian informasi pasien sebagai pengetahuan, mendiskusikan informasi dari pasien, dan mengarahkan mereka pada website kesehatan yang dapat dipercaya dan akurat. Hal ini perlu dianjurkan, seperti informatika pasien yang terintegrasi dengan pendidikan profesional kesehatan.8 Pendidikan kesehatann di era digital membutuhkan keakurataan, regulasi yang baik, dan berdasarkan bukti.3 Dengan adanya kerjasama yang baik dan saling percaya antara pasien dan tenaga kesehatan akan didapat informasi yang terbiasa dengan adanya fakta dan bukannya informasi dengan fakta yang terbiaskan.

Referensi:
1.Brown AEG, Slutzky AR. Refusal treatment of childhood cancer: A systematic review. Pediarics. 2017;140(6):1–15.
2.McCaw BA, McGlade KJ, McElnay JC. Online health information - what the newspapers tell their readers: a systematic content analysis. BMC Publlic Heal. 2014;14(1316):1–9.
3.Iftikhar R, Abaalkhail B. Health-seeking influence reflected by online health-related messages received on social media: Cross-sectional study. J Med Internet Res. 2017;19(11):1–12.
4.Gonzalez-Meijome JM. Science, pseudoscience, evidence-based practice and post truth. J Optom. 2017;10:203–4.
5.Hansson SO. Science denial as a form of pseudoscience. Stud Hist Philos Sci. 2017;xxx:1–9.
6.Gordin MD. The problem with pseudoscience. EMBO Rep. 2017;1–4.
7.Cline R, Haynes K. Consumer health information seeking on internet: the state of the art. Health Educ Res. 2001;16(6):671–92.
8.McMullan M. Patients using internet to obtain health nformation: How this affects the patient-health professional relationship. Patient Educ Couns. 2006;63:24–8.

 


* Konsultan Hemtologi Onkologi Anak RS Kanker “Dharmais” Pusat Kanker Nasional, Ka UK Hemtologi Onkologi IDAI Jaya